*Istikamah dalam Kebaikan*

Oleh : Didi Junaedi 


 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap Istikamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Ahqaf :13-14)


Rasulullah Saw. bersabda, “…Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus (konsisten).” (HR Bukhari dan Muslim).


Kita tentu sering mendengar kata ‘Istikamah’. Para dai, ustadz, kyai sering mengatakan, beristikamahlah dalam ibadah, dalam kebaikan. Apa sebenarnya pengertian Istikamah? 


Secara bahasa, Istikamah berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata Istikamah berasal dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka pengertian Istiqamah secara bahasa berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istikamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. 


Adapun pengertian Istikamah menurut istilah, saya kutip dari beberapa pendapat sebagai berikut:


Ibnu Abbas r.a. mendefinisikan: Istikamah mengandung 3 macam pengertian: pertama, istikamah dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat). Kedua, istikamah dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur). Dan ketiga, istikamah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).


Mujahid mengatakan bahwa Istikamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala'.


Imam An-Nawawi dalam kitab ‘Riyadl al-Shalihin’ mengartikan Istikamah dengan tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.’


Dari pengertian diatas, Istikamah lebih tepat jika diartikan “Mengerjakan suatu amalan dengan ikhlas (murni) karena Allah Swt, melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya (bertaqwa), serta dalam pelaksanaannya tetap sesuai syari’ah, tidak mencampurkannya dengan sesuatu yang bathil”. 


Dengan demikian seorang muslim yang Istikamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia laksana batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak yang datang silih berganti. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu Istikamah sepanjang masa.


Seorang muslim yang Istikamah adalah muslim yang konsisten ketika melaksanakan suatu aktivitas ibadah, mudawamah (kontinyu) dalam beramal, tidak setengah-setengah atau sekaligus kemudian berhenti. Jika dia tadarus al-Qur’an setiap ba’da shalat maghrib, misalnya, maka meski hanya membaca beberapa ayat, tetapi dia kerjakan secara terus menerus tak pernah putus. Begitu juga halnya ketika bershadaqah, meski tidak dalam jumlah besar, tetapi kontinyu.


Sikap Istikamah adalah salah satu bentuk cara berpikir positif. Karena orang yang Istikamah dalam beramal yakin betul bahwa konsistensi serta keteguhannya dalam beramal, suatu saat akan mengantarkannya pada kebaikan. Orang yang Istikamah, tidak pernah terpengaruh dengan kondisi sekitar. Dia tidak mengenal istilah mood dalam melaksanakan suatu aktivitas ibadah. Dia tetap teguh pada pendiriannya, apa pun kondisi yang tengah dialaminya.


Bagi orang yang memiliki sikap Istikamah, pelbagai ujian, cobaan dan rintangan hidup yang menghadangnya bukanlah suatu halangan baginya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Pun, ketika beragam kesenangan dan kenikmatan hidup diraihnya, tidak menyebabkannya jauh serta melupakan Allah. Inilah sikap Istikamah yang sesungguhnya.



*  Ruang Inspirasi, Selasa, 26 Desember 2023.